Peresean
atau pertarungan antara dua lelaki yang bersenjatakan tongkat rotan (penjalin) dan
berperisai kulit kerbau
yang tebal dan keras (perisai disebut ende). Tradisi ini
dilakukan oleh masyarakat suku Sasak, Lombok,
Nusa Tenggara Barat, Indonesia.
Peresean termasuk dalam seni tari daerah Lombok. Petarung dalam Peresean
biasanya disebut pepadu dan wasit disebut pakembar. Dalam
pertarungan Peresean ini terdapat beberapa peraturan, diantaranya Pepadu tidak
boleh memukul badan bagian bawah seperti paha atau kaki, tapi Pepadu diperbolehkan
memukul bagian atas seperti kepala, pundak atau punggung. Setiap pukulan
tersebut memiliki nilai masing-masing, dan pemenang dalam Peresean ini biasanya
ditentukan dari nilai yang diperoleh setiap rondenya. Selain itu para Pepadu
tersebut dinyatakan kalah apabila sudah menyerah atau berdarah. Berdarah bukan
merarti adanya rasa dendam antar kedua laki-laki ini tetapi presean ini
merupakan bagain dari tradisi yang harus di lestarikan.
Peresean
merupakan salah satu olah raga tradisional paling keras di Pulau Lombok yang
mengakibatkan lawan memar bahkah berdarah. Di akhir pertarungan tidak ada
dendam akan tetapi mampu menjalin silaturahmi yang kuat antar keduanya. Inilah
bagian yang sangat unik dari peresean ini, sehingga memberi kesan yang menarik.
Foto ini di ambil saat berlangsungnya peresean yang bertempat di Dese Sade
Lombok Tengah pada tanggal 18 November 2017.
Nilai yang terkandung dalam peresean ini yaitu tidak adanya rasa dendam atau permusuhan antar kedua laki-laki yang melakukan peresean ini, walaupun tubuhnya memar bahkah berdarah. Jadi seseorang yang saling melakukan pertarungan dan melukai saja tidak ada dendam lantas kita yang sebagai saudara dan keluarga tidak pantas ada dendam di hati masing-masing.

Tradisi yang sangat menarik dan bermanfaat. Menambah pengetahuan saya tentang kebudayaan masyarakat Lombok. Tetap lestarikan budaya, salam budaya. Terima kasih.
BalasHapusBagus. Sangat membantu. Terima kasih.
BalasHapusSangat unik dan ekstrim, budaya yg sangat menarik.
BalasHapusSangat unik dan ekstrim, budaya yg sangat menarik.
BalasHapusBudaya yang patut di lestarikan.
BalasHapusitu dia pukul benaran?
BalasHapusIya kak rizki..
HapusTami juga ambil peresean kak 👍 artikel kk ini menarik, jadi saling melengkapi gtu wkwk
BalasHapusinformasi bermanfaat
BalasHapusTerima kasih informasi....
BalasHapusArtikelnya sangat bermanfaat,budaya presean ini sangat unik dan patut dilestrikan.
BalasHapusMantap
BalasHapusbanyak pelajaran yang didapatkan dari peresean ini jadi wawasan tentang peresean semakin bertambah.
BalasHapusTulisan saudra menambah wawsan saya tentang budaya Sasak..
BalasHapusApakah filosofi dari tradisi Presean inii?? Karena di tulisan saudarii, tidak di jelaskan apa tujuan/maksud serta filosofi, kenapa masyarakat harus melaksanakan tradisi ini.. di tunggu penjelasanya ya...
Tujuan tradisi ini seperti yg kita ketahui yaitu untuk memohon hujan
HapusTernyata peresean sangat menarik yaa terimaksih informasinya
BalasHapusInformasi yang menarik 😊
BalasHapusInformasi yang menarik 😊
BalasHapusLuar biasa informasi yang sangat menarik 👍
BalasHapusInformasi yang sangat bermanfaat dan menambah wawasan baru bagi saya. Semoga kitaa tetap dapat menjaga dan melestarikanya.
BalasHapusArtikelx sangat bermanfaat ..
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusAdakah nilai agama dalam tradisi presean ini kak?
BalasHapusMenurut kak yanti ada, karena dengan tdk ada rasa dendam dalam pertsrungan di agama di ajarkan juga untuk tidak menanmkan rasa dendam dengan seseorang.
HapusInformasinya sangat menambah wawasan. Oya mengapa pepadu tidak boleh memukul badan bagian bawah?
BalasHapusKarena itu aturannya saudariku, krna nanti takutnya tekenan bagian yg sensitif dari pria.
Hapustulisan yg bagus dan menarik
BalasHapusmantappsss djiwaaa
BalasHapusmantap akhi..
BalasHapusKompetisi mencari jati diri bagi kaum lelaki..
BalasHapus